Saturday, 24 January 2015

Menghalau Mendung

mendung menghitam diatas kepalaku
petir menyambar-nyambar membakar dada
rasa perih ketika cawan-cawan di hati dipenuhi duri liar menusuk-nusuk
mencoba lukai kegairahan ini
dengan sembilu pedas yang menancap
dan aku tetap bertahan
melawan petir, bersihkan duri, lepaskan sembilu
dengan tulus cinta ini

disini
bintang-bintang bersentuhan antara rindu dengan rindu
antara cinta dengan kepolosan
yang memohon pada puncak kebenaran
doa-doa yang tak tersapih malam

setengah sadar
mendung demikian murung
ketika butir-butir air mulai berguguran
terperas dari awan-awan yang tertidur
lalu hilang
cawan-cawan cinta
beradu senyap dengan debu
keluguan
untuk bertahan dari jelmaan perih

[Karang Mas. 220309. 05:43]

Source: elgibrany

Friday, 23 January 2015

Buaya-buaya Lepas

Buaya, reptil yang sangat menakutkan sekaligus mengerikan. Buaya muara, Buaya sungai, Buaya darat, Buaya Pohon, dan Buaya-buaya lainnya, tetaplah Buaya. Hanya beda nama di KTP doank.

Asumsi negatif, sebagai binatang menjijikkan sering disematkan untuk para lelaki hidung belang. Tak peduli belang belonteng atau belang tak beraturan. Sama-sama belangnya. Sekali belang tetap belang.

Stereotype diatas adalah pandangan dari kacamata perempuan berbau traumatik terhadap laki-laki. Tapi bagi laki-laki lebih memandang pada air matanya, untuk wanita. Air mata buaya, dari sudut biru para lelaki sering bermanuver dengan sebutan ini kepada perempuan.

Wajar saja, tangis perempuan tidak sejujur tangis laki-laki. Seperti buaya, yang selalu mengeluarkan air mata ketika memakan sesuatu. Seperti itulah perempuan di mata laki-laki.

Lalu, apa hubungannya dengan jargon semua lelaki itu buaya?

Adalah lucu dan aneh bila laki-laki disamakan dengan buaya. Bahkan buaya sama sekali tidak pernah merayu, tidak pernah memberi harapan palsu, tidak pernah menyakiti hati perempuan. Bahkan di jaman modern ini, tas kulit buaya adalah tas termahal pelengkap fashion perempuan masa kini. Justru tersiksa atau membuat wanita cantik?

Sedikit terbang ke budaya Betawi. Dalam lingkup budaya Betawi, simbol Roti Buaya pada rangkaian acara pernikahan dipakai sebagai simbol kesetiaan. Hal ini justru berbanding terbalik, dan menjadi paradok dalam keseharian kita umumnya.

Buaya yang setia? Atau Buaya yang nakal?

Buaya Pohon belum mampu menjawabnya.

(23/01/15)

Thursday, 15 January 2015

Buaya Pohon (Neverland)

Buaya Pohon, tidak seperti buaya kebanyakan. Buaya ini hanya ada di sebuah tempat yang tesembunyi di negeri antah berantah bernama Neverland. Buaya ini juga lahir dan berkembang dari sekumpulannya yang terbuang, tidak jauh dari Kerawang dan Bekasi. Di sebuah rumah dinas kecil milik para ksatria pembela tanah air.

Tapi itu hanyalah sepenggal kisah fiktif yng membuka lembaran kusam masa silam saat komunitas ini terbentuk di tahun 1999-2002. Diploma Keuangan dan Perbankan, itu adalah clue-nya. Plus kampus Cateris Paribus, yang berbendera Oranye. Sudah tahu jawabannya?

Jika kita menilik satu persatu kabar dari veteran Buaya Pohon, ternyata gampang-gampang susah. Satu-persatu dari mereka entah dimana rimbanya. Bisa dimaklumi, mengingat jarak waktu yang lumayan panjang saat terakhir wisuda. Itupun hanya dua veteran plus satu additional personel yang berhasil melanjutkan di padepokan yang sama sampai Sarjana Ekonomi.

Lalu, dimanakah mereka yang lain?

Bali? di Denpasar atau Negara? Tegal Cangkring? Loloan?
Makassar? Sumba? Kupang? Ende? Jayapura?
Tangerang Selatan?

Masihkah 'Macan Sumba pemburu gadis?' atau sudah beganti pemburu janda?

*
(anx15)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...