Tuesday, 9 January 2018

Magda Hutagalung Padukan Vila dan Hotel 'High-End' di Seminyak

KOMPAS.com — The Residences at W Bali-Seminyak merupakan perpaduan hotel dan vila mewah di lahan seluas 7 hektar. Bangunan semacam ini pun merupakan yang pertama di Seminyak.

Di sini ada 79 vila dengan ruang terbuka yang tampil dalam warna dan desain berbeda. Dari 79 unit, 65 vila dengan satu kamar tidur, 10 vlla dengan dua kamar tidur, dan 4 vila dengan tiga kamar tidur.

Vila-vila mewah ini dibangun oleh pengembang PT Dua Cahaya Anugerah. Setelah dijual dan dibeli investor, vila-vila akan dioperasikan oleh W Hotels yang merupakan brand dari Grup Starwood Hotels & Resorts Worldwide.

Adapun hotel memiliki 158 kamar dengan fasilitas spa 24 jam, kolam renang multi-level yang dapat dinikmati sambil berjemur di bawah sinar matahari Seminyak yang hangat, dan pantai di kawasan hotel.

Tamu hotel dan vila juga dapat memanfaatkan perpustakaan, pusat bisnis, dan ruang pertemuan ultramodern.

“Saya bangga membawa produk ini ke Bali. Lokasinya di Seminyak dan sangat strategis. Hotel yang akan mengoperasikan merupakan brand terkemuka, yaitu W Hotels. Jadi, jangan heran jika suatu hari Anda menginap di sini, di vila sebelah Anda ada Julia Roberts,” kata Magda Hutagalung, pengembang PT Dua Cahaya Anugerah yang membangun The Residences at W Bali–Seminyak.

The Residences at W Seminyak dirancang oleh arsitek terbaik di Asia, Chan Soo Kian. Interiornya oleh ABC Hongkong. Adapun Restoran F&B dirancang oleh Adpole Singapura.

Pembeli pertama vila ini adalah Millie Stephanie Lukito, pemilik Grup Indonesia Tatler. “Saya membeli dua vila ini yang masing-masing satu kamar tidur. Saya suka dengan suasana di vila ini. Spa-nya saja buka 24 jam dan kita bisa check-in di dalam kamar,” kata Stephanie.

General Manager W Hotels Craig Seaward menekankan soal pelayanan yang diberikan kepada tetamu. “Whatever you want, whenever you want, we will do. Jadi kalau Anda butuh helikopter, kami akan sediakan itu,” kata Craig.

The Residences at W Bali Seminyak akan beroperasi November 2010. Ini merupakan hotel resor pertama yang dikelola W Hotels di kawasan Asia.

Berikut ini wawancara Robert Adhi Ksp dari Kompas.com dengan Magda Hutagalung, pemilik PT Dua Cahaya Anugrah (DCA), pengembang yang membangun The Residences at W Bali, Sabtu (22/5/2010) malam di OnFive, Hotel Grand Hyatt Jakarta.

Lahir di Medan, 20 April 1962, Magda Hutagalung pernah mengenyam pendidikan Bussiness Administration di Pacific State University di California, Amerika Serikat, tahun 1984. Istri Irwan Oetama yang memiliki dua putra ini sudah 20 tahun terjun dalam bisnis properti. Proyek terakhirnya, The Residences at W Bali, merupakan proyek paling prestisius.

Anda membangun The Residences at W Bali – Seminyak yang high-end. Bagaimana Anda bisa menggandeng W Hotels?
Sepuluh tahun yang lalu, tahun 2000, saya melihat brand W di New York City, Amerika Serikat. Saya terkesan pada hotel dengan brand W ini. Lalu saya memimpikan suatu hari saya bisa memiliki hotel dengan brand W. Jadi, dalam hati, saya berharap dapat mewujudkan impian saya.

Lalu bagaimana akhirnya Anda dapat mewujudkan impian Anda?
Saya percaya dalam perjalanan hidup ada blessing dari Tuhan. Dalam proyek ini, tercipta lapangan kerja untuk 1.000 orang saat pembangunan konstruksi dan 500 orang saat hotel ini beroperasi. Saya percaya Tuhan menitipkan ini semua kepada saya.

Sebelumnya saya memiliki lahan 2,8 hektar saat menawarkan kepada W Hotels. Tapi saat itu belum ada jawaban, sampai akhirnya terjadi bom Bali I dan II. Setelah itu, industri properti dan pariwisata di Bali sempat tenggelam, meski harga tanah tetap tinggi.

Tahun 2005-2006, saya membeli tanah 7 hektar ini di Seminyak, dan menjual tanah 2,8 hektar sebelumnya itu. Ketika ditawarkan ke W Hotels, mereka senang dengan lokasi di Seminyak ini. Mereka tak suka lokasi yang sepi seperti Ubud atau Nusa Dua.

W Hotels lebih suka di lokasi keramaian, dan Seminyak kan dikenal dengan lokasi sunset dan memiliki semangat muda.

Soal The Residences at W Bali Seminyak, Anda memang mencari pasar high-end?
Saya aktif dalam bisnis properti sejak 20 tahun yang lalu. Kebetulan suami saya (Irwan Oetama) juga senang dengan dunia ini.

Saya membangun Daksa Residences sebanyak 29 unit di lahan seluas 3.000 meter persegi. Saya juga membangun gedung perkantoran Adityawarman Tower.

Saya memang sejak awal bermain di kelas high-end dan lokasi prime, seperti rumah-rumah single di Jalan Sriwijaya, Tirtayasa, Sanjaya, Brawijaya, semuanya di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Lalu, W Hotels sebelum memutuskan tawaran mengelola vila dan hotel di Seminyak ini kan mengecek dulu siapa developernya. Selain itu, kami memang terbiasa dengan pasar high-end.

Berapa investasi yang Anda tanamkan untuk proyek properti high-end di Seminyak ini?
Untuk membangun The Residences at W Bali Seminyak, investasi seluruhnya mencapai 200 juta dollar AS. Dananya kami peroleh dari pinjaman bank.

Dalam proyek ini, Anda membangun vila dan menjualnya kepada investor, lalu mengoperasikan vila-vila itu. Sejauh ini, sudah berapa unit yang terjual?
Benar, ada 79 vila yang dibangun dan ditawarkan kepada para pembeli atau investor. Dari 79 vila ini,. 65 villa dengan satu kamar tidur, 10 vila dengan dua kamar tidur, dan 4 vila dengan tiga kamar tidur. Harganya antara 1,2 juta dollar AS dan 3,6 juta dollar AS per unit.

Sampai 22 Mei, sudah 60 persen yang terjual. Para pembelinya 80 persen adalah orang Indonesia. Sisanya 20 persen orang asing.

Setelah ini, kami akan mengadakan roadshow di Singapura, Beijing, Shanghai, dan Hongkong, mempromosikan produk ini.

Selain vila, ada kamar hotel yang dikelola W Hotels. Berapa harga sewa vila dan hotel ini?
Sewa vila ini antara 600 dollar AS dan 5.000 dollar AS per malam, sedangkan sewa hotel antara 450 dollar AS dan 10.000 dollar AS.

Setelah proyek di Bali ini, ada rencana mengembangkan proyek properti lainnya?
Perkembangan dunia pariwisata di Indonesia relatif pesat. Perusahaan kami punya rencana membangun di daerah seperti di Sumatera, antara lain di Padang, dan juga di Indonesia Timur, persisnya di Maluku.

Saya belum memutuskan brand mana yang akan mengelola hotel dan vila kami di Sumatera dan Indonesia Timur. Tapi Starwoods juga punya hotel bintang empat, seperti Four Points. (Robert Adhi Ksp)

Sumber : Kompas

Friday, 8 December 2017

Jangan Asal Setel Sandaran Kepala

Sandaran kepala (headrest) pada mobil bukan hanya sekedar aksesori untuk membuat leher tidak pegal ketika berkendara. Lebih dari itu, ini juga termasuk komponen keselamatan, ketika mobil mengalami benturan karena bisa mengurangi risiko cedera parah pada leher.

Iwan Abdurahman, Repair Service Manager Workshop Department Technical Service Division PT Toyota Astra Motor (TAM) mengatakan, headrest berfungsi ketika mobil di tabrak dari belakang. Seketika itu juga kepala akan bereaksi ke arah belakang juga, dan headrest mencegah leher patah.

“Sandaran kepala harus pas dengan kepala bagian belakang, dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Artinya, posisi kepala jangan terlalu maju, atau bisa dikatakan kepala tegak, penyetelan sandaran kepala juga jangan terlalu tinggi dan rendah, atau bahkan dilepas. Tentu efek negatifnya akan membuat leher akan berpotensi besar mengalami cedera serius.

Mengutip Consumerreports.org, posisi paling atas headrest sebaiknya sejajar dengan ujung kepala, jika komponen tersebut bisa mencapainya. Jika tidak, setidaknya ujung headrest sejajar dengan bagian tertinggi telinga. Jarak antara kepala dan sandaran sebisa mungkin tidak lebih dari 4 inci.

(COPAS WAG)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...